Scroll untuk membaca artikel
Senin, 14 November 2022 | 22:24 WIB

Mengenal Paham Apokaliptik, Dugaan Sekte Sesat Penyebab Kematian Satu Keluarga di Kalideres Menurut Kriminolog UI

Yanti Agustjik
Mengenal Paham Apokaliptik, Dugaan Sekte Sesat Penyebab Kematian Satu Keluarga di Kalideres Menurut Kriminolog UI
Freepik

Dugaan demi dugaan terus mencuat atas ditemukannya jasad empat orang dalam satu keluarga di Kalideres tepatnya di Perumahan elite Citra Garden, Jakarta Barat.

Dalam temuan awal, kematian keempatnya diduga akibat kelaparan karena lambung yang kosong setelah diperiksa ahli forensik. Namun, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi tentang penyebab pasti kematian yang menghebohkan tersebut.

Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Adrianus Eliasta Meliala mengungkap pendapatnya bahwa adanya dugaan keluarga di Kalideres tersebut menganut paham apokaliptik.

Menurut Adrianus Eliasta Meliala, peristiwa kematian satu keluarga di Kalideres ini serupa dengan kematian massal pengikut sekte Peoples Temple pimpinan Jim Jones di Guyana, Amerika Selatan pada 1978.

Baca Juga:Belum Genap Sebulan, Batik Air Kecewakan Tiga Orang Ternama! Terbaru, Anak Presiden Sampai Gak Mandi

"Jadi mungkin mirip dengan kelompok yang mati massal di Guyana. Atau yang melakukan sesajian massal di pinggir laut dan malah disapu ombak semua. Karena kematian adalah tujuan akhir, maka mereka tidak takut," kata Adrianus Eliasta Meliala kepada Suara.com, Senin (14/11/2022).

Adrianus Eliasta Meliala menilai para korban dimungkinkan memilih cara mengakhiri hidupnya dengan sengaja tidak makan, meskipun cara tersebut tergolong ekstrim.

Kriminolog UI, Adrianus Eliasta Meliala [HukumOnline]
Kriminolog UI, Adrianus Eliasta Meliala (sumber: HukumOnline)

"Mungkin ini konsepsi 'silih' yakni membuat diri menderita demi suatu kenikmatan di kemudian hari," terang Adrianus Eliasta Meliala.

Terkait permasalahan ekonomi yang sempat mencuat sebagai dugaan penyebab keluarga tersebut memutuskan mengakhiri hidup, menurut Adrianus Eliasta Meliala hal tersebut bisa jadi merupakan bagian dari cara korban mempersiapkan 'keberangkatan' menuju akhir dunia.

"Kalau cuma menunggak listrik atau jual rumah, itu mah kecil. Kemungkinan itu bagian dari persiapan untuk 'berangkat' tersebut," jelasnya.

Baca Juga:Dua Sisi Awal Mula Perseteruan Deddy Corbuzier dan Meyden, Siapa yang Salah? Simak Cerita Lengkapnya!

MENGENAL PAHAM APOKALIPTIK

Dilansir dari Wikipedia, Apokaliptik merupakan bentuk kata sifat dari kata benda apokalips. Apokalips sendiri merupakan kata yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani "apokalyptein," yang berarti mengungkapkan sesuatu yang jauh.

Kata tersebut kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi apocalypse (apokalips dalam bahasa Indonesia) yang artinya kehancuran akhir dunia yang lengkap, seperti yang dijelaskan dalam kitab Wahyu Alkitab (agama Kristen), Apokalips merupakan sebuah peristiwa yang melibatkan kehancuran atau kerusakan pada skala yang mengagumkan atau bencana.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa apokalips adalah gambaran, atau bayangan tentang sesuatu yang jauh di masa depan, tentang akhir zaman atau kehancuran dunia, atau secara sederhana, apokalips adalah gambaran tentang Hari Kiamat. Sedangkan apokaliptik adalah sifat yang menunjukkan tentang gambaran kehancuran dunia di masa depan. 

Dalam keterangan Suara Bekaci, pengertian paham apokaliptik adalah kepercayaan terhadap hari akhir yang memberikan kenikmatan di kemudian hari. Paham ini mempercayai dengan penderitaan yang dilalui sebelum meninggal adalah bentuk penebus dosa sebelum menuju ke akhirat.

TANGGAPAN KEPOLISIAN

Kanit Krimum Polres Metro Jakarta Barat, AKP Avrilendi menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memberi kesimpulan terkait dugaan keluarga di Kalideres merupakan pengikut sekte sesat. Menurut AKP Avrilendi, hingga kini penyidik masih melakukan pendalaman terkait penyebab kematian korban.

"Secara resmi belum bisa menyimpulkan," kata AKP Avrilendi saat dihubungi awak media, Senin (14/11/2022).

AKP Avrilendi mengatakan anggota dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap sampel lambung dan hati para korban untuk memastikan penyebab kematian.

"Kita masih tunggu itu untuk penyebab kematian," tandas AKP Avrilendi.

Berita Terkait

Tag

terpopuler

News

Terkini

Loading...
Load More
Ikuti Kami

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda